Kamis, 20 Desember 2012

Cara Orang Tua Mendidik Anaknya


A.      Peranan orang tua dalam mendidik anak
Peran orang tua dalam hal pendidikan anak sudah seharusnya berada pada urutan pertama, para orang tualah yang paling mengerti benar akan sifat-sifat baik dan buruk anak-anaknya, apa saja yang mereka sukai dan apa saja yang mereka tidak sukai. Para orang tua adalah yang pertama kali tahu bagaimana perubahan dan perkembangan karakter dan kepribadian anak-anaknya, hal-hal apa saja yang membuat anaknya malu dan hal-hal apa saja yang membuat anaknya takut. Para orang tualah yang nantinya akan menjadikan anak-anak mereka seorang yang memiliki kepribadian baik ataukah buruk.
Peranan orang tua bagi pendidikan anak menurut Idris dan Jamal (1992) adalah memberikan dasar pendidikan, sikap, dan ketrampilan dasar seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan-peraturan, dan menanamkan kebiasan-kebiasan. Selain itu peranan keluarga adalah mengajarkan nilai-nilai dan tingkah laku yang sesuai dengan yang diajarkan di sekolah.
Berikut adalah peran anggota keluarga dalam mendidik anak:
Peran Ayah
Peran ayah sebagai pendidik merupakan peran yang penting. Sebab peran ini menyangkut perkembangan peran dan pertumbuhan pribadi anak. Ayah sebagai pendidik terutama menyangkut pendidikan yang bersifat rasional. Seorang anak yang dibimbing oleh ayah yang peduli, perhatian dan menjaga komunikasi akan cenderung berkembang menjadi anak yang lebih mandiri, kuat, dan memiliki pengendalian emosional yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak memiliki ayah seperti itu.
Posisi ayah biasanya tergantung sejauh mana dia melihat peran pentingnya dan kemudian memutuskan untuk terlibat. Karenanya dalam beberapa penelitian menunjukkan peran ayah memegang kunci yang menentukan bagaimana kondisi anaknya ketika besar nanti.
Peran Ibu
Tidak ada yang meragukan pentingnya peran ibu dalam pendidikan anak-anaknya, kasih sayang dan perhatian dari seorang Ibu mempunyai pengaruh yang besar pada kepribadian anak. Perhatian dan kasih sayang tersebut akan menimbulkan perasaan di terima dalam diri anak-anak dan membangkitkan rasa percaya diri di masa-masa pertumbuhan mereka.
Begitu besar peran seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya, maka tidak dapat dipungkiri bahwa ibu adalah sekolah yang pertama. Ibu adalah sekolah pertama untuk anak-anaknya, tempat dimana anak mendapat asuhan dan diberi pendidikan pertama bahkan mungkin sejak dalam kandungan. Proses pendidikan yang diberikan oleh seorang ibu sudah dilakukan sejak sang bayi masih dalam kandungan. Apa yang ibu dengarkan atau bacakan kepada  bayi dalam kandungan, maka hal tersebut akan didengar pula oleh sang bayi. Emosional dan watak seorang ibu pun dapat ditularkan melalui perilaku seorang ibu selama mengandung dan mengasuh, maka tak heran jika ikatan emosional seorang Ibu dan anak tampak lebih dibanding dengan seorang ayah.
Pendidikan dapat diberikan dengan kontak mata yang terjadi antara ibu dan anak. Setiap saat, dimanapun dan kapanpun proses pendidikan tersebut dapat dilakukan. Seorang ibu memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan generasi muda yang kreatif, inovatif, prestatif, edukatif dan produktif. Adalah sebuah mimpi hal itu terwujud jika tidak dilukis oleh tangan-tangan lembut seorang ibu. Dan untuk mewujudkannya, tidak lain hanyalah melalui wanita sholihah yang berilmu, berakal dan bertaqwa yang dapat melakukannya.

B.       Pola Asuh Dalam Keluarga
Berk (2000) dalam socialization with in the family (Anonim, 2003;1) pola asuh orang tua adalah daya upaya orang tua dalam memainkan aturan secara luas di dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anaknya.
Ø  Pola asuh menurut Stewart dan Koch (1983: 178) terdiri dari tiga kecenderungan pola asuh orang tua yaitu:

      1.      Pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat pemaksaan, keras dan kaku di mana orangtua akan membuat berbagai aturan yang harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Orang tua akan emosi dan marah jika anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orang tuanya.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 203), orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri kaku, tegas, suka menghukum, kurang ada kasih sayang serta simpatik, orang tua memaksa anak-anak untuk patuh pada nilai-nilai mereka serta mencoba membentuk lingkah laku sesuai dengan tingkah lakunya serta cenderung mengekang keinginan anak, orang tua tidak mendorong serta memberi kesempatan kepada anak untuk mandiri dan jarang memberi pujian, hak anak dibatasi tetapi dituntut tanggung jawab seperti anak dewasa.
Dalam penelitian Walters (dalam Lindgren 1976: 306) ditemukan bahwa orang yang otoriter cenderung memberi hukuman terutama hukuman fisik. Sementara itu, menurut Sutari Imam Barnadib (1986: 24) dikatakan bahwa orang tua yang otoriter tidak memberikan hak anaknya untuk mengemukakan pendapat serta mengutarakan perasaan-perasaannya.
Orang tua seperti itu akan membuat anak tidak percaya diri, penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, kepribadian lemah dan seringkali menarik diri dari lingkungan sosialnya, bersikap menunggu dan tak dapat merencakan sesuatu.
      2.      Pola asuh Demokratis.
            Yaitu pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak tetapi tidak ragu untuk mengendalikan mereka pula. Pola asuh seperti ini kasih sayangnya cenderung stabil atau pola asuh bersikap rasional. Orang tua mendasarkan tindakannya pada rasio. Mereka bersikap realistis terhadap kemampuan anak dan tidak berharap berlebihan.
Baumrind & Black (dalam Hanna Wijaya, 1986: 80) dari hasil penelitiannya menemukan bahwa teknik-teknik asuhan orang tua yang demokratis akan menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri maupun mendorong tindakan-tindakan mandiri membuat keputusan sendiri akan berakibat munculnya tingkah laku mandiri yang bertanggung jawab. Hasilnya anak-anak menjadi mandiri, mudah bergaul, mampu menghadapi stres, berminat terhadap hal-hal baru dan bisa bekerjasama dengan orang lain.
      3.      Pola Asuh permisif
Pola ini kerap memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 225) menyatakan bahwa Orang tua yang mempunyai pola asuh permisif cenderung selalu memberikan kebebasan pada anak tanpa memberikan kontrol sama sekali, anak dituntut atau sedikit sekali dituntut untuk suatu tangung jawab tetapi mempunyai hak yang sama seperti orang dewasa, dan anak diberi kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri dan orang tua tidak banyak mengatur anaknya. Orang tua tipe ini memberikan kasih sayang berlebihan. Karakter anak menjadi impulsif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri dan kurang matang secara sosial.   
  Ø  Pola asuh Overprotectif
Banyak orang tua yang merasa khawatir kalau anaknya akan terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya yang penuh dengan kesukaran dan bahaya, serta hal-hal yang kotor. Mereka menahan anak-anaknya supaya di rumah saja tidak boleh bermain atau bergaul dengan anak-anak lain.
Kadang anak suka melakukan hal-hal yang berbahaya, manjat, lompat, dan lain-lain, yang bikin orang tua kadang suka rada takut. Yang jadi masalah kadang karena tidak ingin anaknya kenapa-kenapa akhirnya si anak dilarang-larang, mau ini jangan, mau itu jangan. Alhasil, tumbuhlah anak anda jadi anak penakut dan tidak punya semangat untuk berjuang.

  Ø  Pola asuh dengan cara dibentak
Membentak anak, sepertinya sudah menjadi kebiasaan sebagian orang tua. Saat melihat anak melakukan kesalahan, atau ketidak patuhan, orang tua memang sering dibuat jengkel. Secara refleks, karena emosi, orang tua sering bermaksud ‘menasihati’, tapi diucapkan dengan nada tinggi. Kebiasaan ini juga lebih sering dilakukan oleh orang tua yang temperamental.

  Ø  Pola asuh berdasarkan Islam
Menurut al-Qur’an orang tua wajib memberi pendidikan kepada anak-anaknya. Dalam mendidik prioritas pertama adalah penanaman akidah, pendidikan akidah diutamakan agar menjadi kerangka dasar dan landasan dalam membentuk pribadi anak yang soleh.
Orang tua wajib membiasakan anak-anaknya untuk selalu mengingat rukun islam yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Ajari anak dasar-dasar syariat dan akhlak. Dalam mendidik hendaknya menggunakan pendekatan kelembutan dan kasih sayang.
Orang tua yang berperan mendidik dan mengontrol salat anak-anaknya, penekanan dalam mendidik anak setelah akidah adalah mendirikan salat, setelah salat didirikan, maka dilanjutkan dengan mengarahkan pada pendidikan dakwah, penyampaian kebenaran dan pencegahan kemungkaran. Menyebarkan kebaikan, dan memberantas kemungakaran, baik dengan cara memberi contoh, dengan lisan, maupun perbuatan. Menanamkan dalam diri anak untuk selalu sabar menghadapi berbagai cobaan kehidupan dengan sabar semua akan menjadi baik, dengan sabar pikiran menjadi cemerlang, dengan sabar akan banyak jalan penyelesaian, sebab hanya dengan sabar orang akan terselamatkan, dengan sabar manusia menjadi dekat dengan Tuhan, karena kesabaranlah Allah menjadi cinta.
Dan tidak kalah pentingnya adalah mendidik akhlak anak. Orang tua harus mengajari anaknya budi pekerti luhur dan akhlak terpuji, serta mencegah dari akhlak yang buruk dan sifat-sifat tercela, seperti berdusta, mencuri, mencela, bergaul secara bebas, dan meniru. Orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Dalam taraf perkembangan jiwa dan kepribadiannya, anak meniru apa yang dilihat dan dengar. Kalau orang tua kurang hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, hingga anak-anaknya mengetahui dan mendengar, maka anak secara reflek akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Di sisi lain, masyarakat sekitar dan pendidikan juga memberi andil yang besar dalam membentuk karakter dan akhlak anak, untuk itu para orang tua hendaknya lebih hati-hati dan selektif dalam mencarikan lingkungan bermain dan pendidikan untuk buah hatinya. Apabila orang tua mendengar anaknya berbohong atau mengeluarkan kata-kata kotor, orang tua harus menegur dan meminta anak untuk tidak mengulanginya lagi, kalau tidak ancam dengan hukuman.

C.      Pentingnya ketegasan dalam mendidik anak
Sikap tegas orang tua sebagai orang terdekat anak memiliki fungsi dan peran besar dalam pembentukan kepribadian anak sejak kecil. Menjadi orang tua yang tegas akan lebih banyak manfaatnya kelak bagi masa depan anak daripada bersikap terlalu lembut, melakukan pembiaran dengan bersikap terserah kemauan anak. Ketegasan dalam memberikan dan menerapkan aturan akan membantu tumbuhnya disiplin dalam diri anak sejak kecil. Dengan tertanamnya kebiasaan disiplin yang baik, maka mental dan karakter anak secara perlahan terbentuk menjadi anak yang terbiasa dengan kedisiplinan tersebut. Kebebasan bermain dan mengekspresikan diri, bukan berarti mengabaikan faktor ketegasan dalam menerapkan aturan dan pengawasan. Jika memang aturan dilanggar atau anak membangkang, sah-sah saja kita bertindak tegas dalam memberikan hukuman. Akan tetapi hukuman itu harus bersifat efektif, tidak didasari kebencian, tidak mencederai dan tidak membuatnya mengalami trauma.
Pada masa emas pertumbuhannya, pola asuh dan didikan yang diterapkan keluarga akan sangat tertanam dan bisa menjadi sebuah pembiasaan. Dalam hal ini, kita seharusnya tidak terlalu memanjakannya dan menuruti segala keinginannya, sehingga ia bisa belajar tentang arti kesulitan dan cara mengatasinya. Jika kita cermati kisah hidup atau biografi orang-orang besar, pengalaman masa kecil sangat mendukung pencapaian diri dan hidup mereka di masa depannya. Mayoritas dari mereka memiliki pengalaman disiplin di masa kecilnya. Sikap terlalu membebaskan, selalu mengikuti kemauan anak dan memanjakan anak sama saja dengan bentuk pembiaran. Hal ini akan terlihat dalam perkembangannya di masa depan, anak menjadi sulit diatur, bertindak semaunya, kurang beretiket dan membangkang karena terbiasa dengan pembiaran tadi.
Ketegasan akan memberi peluang bagi tumbuhnya kebutuhan akan sebuah aturan, sehingga dalam dirinya tumbuh prinsip aturan dibuat untuk ditegakkan, bukan untuk dilanggar, selama aturan tersebut relevan. Dalam perkembangannya, anak akan lebih menghargai orang tua dan keluarga sebagai penegak aturan, lebih mengerti nilai-nilai dan manfaat yang terkandung dalam sebuah aturan, serta lebih memahami bahwa hidup tanpa aturan tidak enak. Pemahaman dan kebutuhan akan aturan inilah yang berkaitan dengan kedisiplinan, manajemen diri dan kehidupannya, serta kemampuannya dalam menentukan prioritas dalm pencapaian tujuan-tujuan hidupnya kelak.
Ketegasan sangat bermanfaat dalam menempa mental dan kreativitas berpikir anak kelak dalam menjalani kehidupannya. Secara mental, anak akan lebih siap menghadapi masalah, kreatif dalam pencarian solusi, tidak mudah menyerah pada keadaan, punya sikap dan tidak selalu bergantung kepada orang lain. Berkaitan dengan ini, saya dan beberapa rekan pernah melakukan analisa dan penelitian kecil terhadap beberapa murid di sekolah menengah tempat kami berbagi ilmu berdasarkan faktor latar belakang pendidikan keluarga mereka sejak masa kecil. Anak yang dalam lingkungan keluarganya diberikan ketegasan, memang lebih disiplin, terlihat lebih siap menghadapi kesulitan-kesulitan belajar, lebih punya sikap dan tidak terbawa arus, bisa mengikuti dan mematuhi aturan, lebih santun, dan jarang mengeluh. Sedangkan anak-anak yang dalam keluarganya senantiasa mendapatkan kemudahan, orang tuanya bersikap terserah dan masa bodoh, serta tidak ada ketegasan, sikap mentalnya terlihat cukup lemah meskipun gaya berbicara dan bersikap sangat keras. Mereka cenderung tidak siap menghadapi masalah terutama kesulitan-kesulitan dalam belajar, sering menempuh cara pintas dalam menyiasati dan menyelesaikan persoalan, mengandalkan orang lain dan lebih bergantung kepada komunitasnya (kelompok bergaulnya), lebih mudah terbawa arus, serta kreativitas berfikirnya kurang terasah sekalipun kecerdasan intelektual mereka di atas rata-rata.

D.      Hal-hal yang perlu dihindari orang tua dalam mendidik anaknya 
1. Tidak konsisten menegakkan peraturan
Ketentuan yang selalu berubah-ubah membuat anak menjadi bingung, serba tak pasti dan tidak fokus. Anak juga bisa berkembang menjadi pribadi yang labil, takut bertindak dan peragu dalam mengambil keputusan.
     2.  Terlalu membenarkan pendapat diri sendiri tanpa mau berdiskusi dan 
                  menghargai pendapat  anak
Kebiasaan seperti ini bisa membuat anak menjadi pribadi yang egois dan tidak bisa menghargai orang lain. Anak juga bisa menjadi pribadi yang mau menang sendiri, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Untuk itu, biasakan untuk selalu berdiskusi dengan anak anda dan biarkan mereka mengutarakan pendapat serta keinginannya dengan cara yang baik. Ajarkan kepada anak untuk mau mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain.
     3.      Selalu melarang dan terlalu mengontrol
Anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang peragu, penakut, dan mati kreatifitasnya. Padahal dengan bereksplorasi pada lingkungan sekitarnya anak bisa belajar banyak hal yang berguna untuknya. Namun, terlalu banyak membiarkan anak melakukan segalanya tanpa ada batasan juga tidak baik karena anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang seenaknya.
      4.      Orang tua sering melakukan berbohong
Berbohong meski demi untuk kebaikan terkadang perlu. Namun, apabila terlalu sering dilakukan, anak bisa menirunya dan menjadikan ini sebuah kebiasaan. Untuk itu, biasakan anak untuk selalu berkata jujur agar ia tumbuh menjadi pribadi yang amanah, jujur dan bisa dipercaya.   
      5.      Orang tua sering bertengkar di depan anak
Bila hal ini selalu terjadi di depan anak, maka anak akan berpikir bahwa bertengkar adalah hal yang biasa. Ia juga bisa saja beranggapan bahwa bila ingin menyelesaikan segala sesuatu bisa dengan cara bertengkar dan mengesampingkan dialog dan musyawarah untuk mendapatkan penyelesaian.

E.       Dampak yang timbul dari cara Orang Tua mendidik anak
            1.      Dampak Positif : dampak positif akan timbul bila orang tua mendidik anaknya dengan baik dan benar oleh sebab itu orang tua perlu mencari cara mendidik anak yang efektif. Dampak positif ini salah satunya anak mempunyai prestasi disekolah maupun diluar sekolah dalam pendidikan yang biasa dikatakan mata pelajaran, dan yang lebih baik lagi anak dapat mempunyai sifat yang baik atau moral yang baik maupun kepribadianya sendiri. Bukan hanya itu, anak dapat mempuyai banyak teman karena sifat baiknya dan tidak mudah dibenci orang lain.
           2.      Dampak negatif : dampak negatif ini timbul apabila orang tua salah mendidik anak, jangan sampai hal ini terjadi karena hal ini dapat menjerumuskan anak ke arah yang tidak benar. Dampak negatifnya adalah anak tidak mendapat bimbingan yang baik sehingga tidak memiliki pengetahuan yang luas atau tidak mempunyai prestasi yang dapat dibanggakan. Dampak yang didapatkan dalam hal moral adalah anak tidak mempunyai sifat yang baik dan dapat merusak pandangan dirinya dari penglihatan orang lain. Contoh dari sifat yang tidak baik yaitu anak merokok , anak membantah kepada orang tua, anak tidak betah dirumah, dan sebagainya. Hal ini dapat menjelekkan nama baik orang tua dan diri anak sendiri.


Daftar Pustaka
Prakusuma, 2008, Jenis/Macam Tipe Pola Asuh Orangtua Pada Anak & Cara Mendidik/Mengasuh Anak Yang Baik. Online. Tersedia: http://prakusuma.blogspot.com/ [14.52].
Noer, Muhammad, 2009, Peran Ayah Dalam Kece rdasan Emosional Anak. Online. Tersedia: http://www.muhammadnoer.com/2009/04/peran-ayah-dalam-kecerdasan-emosional-anak/ [12.10]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar